Kultural Tur Bangunkota: Sebuah Tradisi Menelusuri Kota Memaknai Desa


Bekasi (02/02/2026) - Perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga membaca ulang cara kota dan desa, komunitas, dan tradisi saling terhubung. Semangat itulah yang dipegang Bangunkota dalam perjalanannya menuju Jawa Tengah, yang dimulai pada 30 Januari dan berlanjut hingga 01 Februari 2026, dengan tujuan Hysteria Artlab, Peka Kota, Komite Ekraf Kabupaten Semarang, dan Pasar Papringan di Jawa Tengah.  Perjalanan Kultural Tur ini bersama perwakilan dari Kasepuhan Adat Kranggan Bekasi, Mahasiswa Magister Design Leadership ITB, Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Komunitas Karasa Bandung.

Menyapa Sejarah di Semarang


Titik perjalanan Kultural Tur yang pertama di Semarang pada 31 Januari 2026. Kota pelabuhan ini menjadi pintu awal perjalanan, sekaligus ruang untuk menyelami lapisan sejarah dan dinamika masyarakat urban. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Kota Lama Semarang, kawasan bersejarah yang menyimpan jejak kolonial yang saat ini bertransformasi menjadi ruang hidup baru bagi aktivitas seni, kreatif, dan pariwisata kota. Di antara bangunan tua dan jalanan berbatu, percakapan ringan hingga refleksi mendalam tentang kota, ruang publik, revitalisasi bangunan bersejarah dan keberlanjutan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan ini.

Diskusi Komunitas

Perjalanan berlanjut dengan diskusi bersama Komunitas Hysteria Artlab, salah satu komunitas seni dan budaya yang konsisten merawat ruang ekspresi dan wacana kritis di Semarang dan Jawa Tengah. Diskusi ditemani Ahmad Khairudin, inisiator Hysteria Artlab dan Ketua Komite Ekraf Jawa Tengah, menjadi ruang bertukar gagasan tentang peran komunitas dalam menjaga denyut kebudayaan desa dan kota, tantangan pengelolaan ruang, hingga pentingnya kolaborasi lintas wilayah.


Ambarawa: Sejarah dan Jejaring Ekonomi Kreatif

Dari Semarang, Bangunkota melanjutkan perjalanan ke Ambarawa untuk mengunjungi salah satu situs bersejarah, Benteng Fort Willem I Ambarawa. Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya masa lalu, tetapi juga fondasi identitas ruang hari ini.

Di Ambarawa, rombongan juga bertemu dengan Dimas Herdy U., Komite Eksekutif ICCN sekaligus Ketua Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah. Pertemuan ini membuka diskusi tentang ekosistem ekonomi kreatif, peran komunitas, dan peluang kolaborasi antar daerah. 

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kantor Komite Ekraf Jawa Tengah yang berlokasi di kawasan Rawa Pening. Kawasan Rawa Pening adalah danau alam seluas 2.670 hektar yang terletak di cekungan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, diapit Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Danau ini berfungsi sebagai sumber irigasi, perikanan darat, pembangkit listrik, serta pengendali banjir, sekaligus merupakan destinasi wisata populer yang sarat dengan legenda Baru Klinting. Lanskap alam yang mengelilingi kawasan ini memberi perspektif lain tentang hubungan antara ruang, budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis lokal. Kedepannya, pengembangan area ini akan mengusung konsep placemaking (reka ruang) berbasis perpaduan seni, ekonomi kreatif, budaya dan pariwisata alam.

Belajar dari Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung

Puncak perjalanan Kultural Tur ditutup dengan kunjungan ke Pasar Papringan Ngadiprono, Temanggung, sebuah pasar organik tradisional yang bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi ruang bertemunya nilai, cerita, dan pengalaman.

Pasar Papringan dikenal sebagai pasar unik yang digelar setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Berlokasi di area hutan bambu, pasar ini mempertahankan nuansa tradisional yang kuat dan mengedepankan prinsip keberlanjutan serta pemberdayaan warga lokal.

Keunikan Pasar Papringan terletak pada sistem transaksinya. Uang Rupiah tidak digunakan secara langsung. Pengunjung wajib menukarkan uang mereka dengan kepingan bambu (pring) yang berfungsi sebagai alat tukar sah di dalam pasar. Setiap 1 keping pring bernilai Rp2.000. Sistem ini bukan sekadar gimmick, melainkan simbol upaya menjaga sirkulasi ekonomi lokal, keberlanjutan alam, sekaligus menguatkan identitas pasar.

Belajar dari Ruang yang Hidup dan Menghidupi

Bagi Bangunkota, perjalanan ini bukanlah wisata biasa, melainkan social tourism yang menumbuhkan semangat dan kesadaran diri untuk mengembangkan wilayah secara kolektif, arif dan berkelanjutan. Ini adalah proses belajar dari kota ke desa, dari komunitas ke komunitas, dari ruang urban hingga ruang tradisional yang sarat akan nilai dan makna. Pasar Papringan Ngadiprono menjadi bukti bahwa ruang budaya dan ekonomi dapat tumbuh dari akar lokal, dikelola bersama, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Perjalanan ke Semarang, Ambarawa, dan Temanggung menjadi pengingat bahwa membangun kota tidak selalu dimulai dari infrastruktur yang megah yang menghabiskan biaya tinggi, melainkan dari ruang-ruang hidup, tempat manusia, budaya, dan alam saling terhubung.

—--------------------------------- 

Tentang Bangunkota

Bangunkota adalah gerakan komunitas kreatif yang berfokus pada penguatan ruang budaya, ruang publik, dan kolaborasi lintas komunitas di kota. Melalui perjalanan, diskusi, dan praktik baik, Bangunkota berupaya membaca kota sebagai ruang hidup—tempat alam, budaya, identitas, warga dan masa depan saling terhubung. Bangunkota percaya bahwa kota yang berdaya tumbuh dari komunitas yang aktif merawat ruang dan tradisi.


PJ dan Kerja Sama Media: 

Dwitisya

Direktur Komunikasi & Kreatif Bangunkota

085737719936  

Media Sosial: bangunkota.id 

Lebih baru Lebih lama