Di
usia ke-79 tahun, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak cukup hanya dirayakan
dengan nostalgia dan romantisme sejarah. Usia ini justru menuntut keberanian
untuk bercermin secara jujur, terutama di tengah krisis zaman yang kian
kompleks: kerusakan lingkungan, bencana yang berulang, serta arah pembangunan
yang semakin menjauh dari prinsip keadilan dan keberlanjutan.
Banjir,
longsor, dan kerusakan ruang hidup masyarakat bukanlah peristiwa alamiah
semata, melainkan buah dari kebijakan yang menempatkan eksploitasi sumber daya
alam di atas keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan. Dalam situasi
seperti ini, Kader HMI beserta seluruh alumninya tidak boleh memilih diam.
Netralitas di tengah krisis ekologis adalah sikap yang justru memperpanjang
ketidakadilan.
Sebagai
alumni HMI, refleksi ini juga diarahkan ke dalam. Nilai keislaman dan
keindonesiaan yang dahulu ditempa dalam proses perkaderan seharusnya menjelma
menjadi keberanian moral dalam ruang-ruang pengambilan keputusan hari ini.
Alumni HMI yang berada di pemerintahan, dunia usaha, akademisi, maupun
masyarakat sipil memiliki tanggung jawab historis untuk memastikan bahwa
pembangunan tidak dibayar dengan kerusakan alam dan penderitaan rakyat.
Krisis
lingkungan sejatinya adalah krisis nilai dan orientasi. Ketika alam diposisikan
semata sebagai komoditas, maka manusia kehilangan perannya sebagai khalifah
yang bertugas menjaga keseimbangan. Di titik inilah HMI diuji: apakah
nilai-nilai dasar perjuangan masih hidup dalam praksis, atau hanya tersisa
sebagai jargon yang diulang dalam seremoni.
Refleksi
HUT ke-79 ini harus menjadi momentum bagi HMI dan alumni untuk kembali menegaskan
keberpihakan.
HMI
tidak boleh hanya melahirkan kader yang cerdas secara akademik, tetapi juga
berani bersikap ketika kebijakan publik mencederai keadilan ekologis. Advokasi
terhadap masyarakat terdampak bencana, kritik terhadap pembangunan
eksploitatif, serta konsistensi dalam menjaga integritas moral harus kembali
menjadi napas gerakan.
Sejarah
akan mencatat bukan seberapa lama HMI berdiri, melainkan seberapa jujur ia
berdiri bersama rakyat dan alam di tengah krisis. Jika Kader HMI dan alumninya
gagal menjawab tantangan ini, maka yang dipertaruhkan bukan hanya relevansi
organisasi, tetapi juga warisan nilai bagi generasi mendatang.
Dirgahayu
Himpunan Mahasiswa Islam ke-79.
Saatnya
HMI berdiri lebih tegas, berpihak lebih jelas, dan bertanggung jawab atas masa
depan bangsa dan lingkungan.
Ridwan Saputra - Alumni HMI
