Citizen Journalist ID - Muhammadiyah kembali jadi buah bibir, bukan karena polemik politik atau perdebatan teologi, melainkan lantaran laporan Seasia Stats menempatkannya di jajaran 10 ormas terkaya di dunia dengan total aset sekitar Rp454,24 triliun hingga Rp462 triliun. Angka itu bersandar pada jaringan amal usaha yang kini merentang dari pendidikan, kesehatan, sosial, hingga sektor ekonomi, dengan ribuan sekolah, kampus, rumah sakit, dan panti asuhan yang tersebar di berbagai daerah.
Di lapangan, deretan bangunan berlogo Muhammadiyah tersebut hari ini lebih akrab dengan aktivitas belajar, antrean pasien, hingga layanan sosial rutin. Namun jika ditarik ke awal abad ke-20, cerita yang mengiringinya jauh lebih keras. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, sempat berhadapan dengan cemooh keluarga, murid, dan warga Kauman ketika memperkenalkan sekolah Islam modern dengan bangku, meja, papan tulis, dan kurikulum yang memasukkan pelajaran umum seperti bahasa Melayu, berhitung, ilmu bumi, ilmu hayat, hingga baca-tulis latin.
Pilihan model pendidikan dan gaya berpakaian guru–murid yang memakai celana dan kadang berdasi, yang waktu itu dianggap meniru masyarakat kolonial pemeluk Kristen, memicu tudingan bahwa Ahmad Dahlan telah menyeleweng dari ajaran Islam. Syaifullah dalam “Genealogi Politik Muhammadiyah” mencatat, tuduhan “masuk Kristen” hingga boikot usaha dagang mengiringi langkah pembaruannya. Meski hubungan dagang terganggu, Ahmad Dahlan tetap mengembangkan lembaga pelayanan lain seperti rumah sakit, perpustakaan, penerbitan, panti asuhan, panti jompo, hingga rumah pondokan untuk kelompok miskin dan rentan.
Surat Al-Ma’un menjadi landasan moral yang mendorong murid-murid Muhammadiyah mengaitkan praktik keagamaan dengan kerja sosial sehari-hari. Dari situ, gerakan yang awalnya dipertanyakan berubah menjadi jaringan institusi besar yang memuliakan manusia melalui akses pendidikan dan kesehatan, sembari mengakumulasi aset hingga ratusan triliun rupiah. Pengkaji Zuly Qodir menyebut pengalaman historis tersebut membentuk Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang populis dan kerakyatan, dengan pesan yang terus dikutip: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”