Di hadapan ratusan delegasi dari seluruh Indonesia, Sahrin menekankan bahwa kekuatan utama wadah ini terletak pada originitasnya yang lahir dan tumbuh dari aspirasi masyarakat bawah.
Dalam pidatonya, Sahrin Hamid menyoroti bahwa Gerakan Rakyat bukanlah organisasi yang dibentuk secara top-down atau instruksi dari kelompok elite semata. Sebaliknya, organisasi ini merupakan akumulasi dari kegelisahan dan harapan warga di tingkat akar rumput yang menginginkan perubahan nyata.
Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil dalam Rakernas ini harus mencerminkan kebutuhan masyarakat di pelosok desa, bukan sekadar kepentingan birokrasi organisasi.
Penegasan ini menjadi krusial di tengah wacana transformasi organisasi yang sedang hangat diperdebatkan melalui E-Musyawarah. Sahrin mengingatkan para kader bahwa sebesar apa pun organisasi ini tumbuh, marwah perjuangannya harus tetap berakar pada masalah-masalah konkret yang dihadapi rakyat, seperti akses pendidikan, kesehatan, dan keadilan ekologis.
Melalui Rakernas I ini, Gerakan Rakyat berupaya mensinkronkan langkah para penggerak di daerah agar tetap berada dalam satu visi. Sahrin menekankan pentingnya menjaga kedekatan dengan masyarakat bukan hanya sebagai objek suara, melainkan sebagai subjek utama pembangunan.
Solidaritas gotong royong yang menjadi prinsip dasar sejak awal berdirinya gerakan harus terus diperkuat melalui kerja-kerja nyata di lapangan.
Pernyataan Ketua Umum ini sekaligus menjawab spekulasi publik mengenai arah politik organisasi ke depan.
Dengan menekankan nilai "Akar Rumput", Sahrin memberikan sinyal bahwa Gerakan Rakyat tidak akan meninggalkan basis massanya demi kenyamanan politik semu.
Fokus pada penguatan kader dan legitimasi rakyat menjadi harga mati dalam menyongsong tantangan tahun 2026 yang kian kompleks.