Enam Persoalan Kritis di Gugusdepan: Membaca Kegelisahan Pramuka Kampus melalui Filsafat

 

Gugus Depan perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memimpin, mengabdi, mengembangkan kecakapan, dan membentuk karakter. Kenyataannya, Pramuka Penegak dan Pandega di gugusdepan kampus masih bergumul dengan enam persoalan berulang: regenerasi anggota, relevansi program, pengembangan kepemimpinan, tata kelola organisasi, transformasi digital, dan kolaborasi antargugusdepan.

Persoalan-persoalan ini tidak hanya soal teknis pengelolaan. Di baliknya tersimpan pertanyaan yang lebih berat tentang manusia, kekuasaan, teknologi, tanggung jawab, dan kehidupan bersama. Filsafat berguna bukan untuk memperindah pembahasan, melainkan untuk membaca masalah sampai ke akarnya.

1. Regenerasi: Adakah Ruang bagi Kelahiran yang Baru?

Banyak gugusdepan menjawab masalah regenerasi dengan promosi dan perekrutan besar-besaran. Tapi itu hanya menjawab soal jumlah. Pertanyaan yang lebih penting diabaikan "apakah anggota baru benar-benar diberi ruang untuk menjadi pelaku utama organisasi, bukan sekadar pelengkap?"

Hannah Arendt menyebut kemampuan manusia memulai sesuatu yang baru sebagai natalitas (Arendt, 1998). Dalam konteks gugusdepan, regenerasi gagal ketika senior hanya mencari penerus yang patuh, seragam, dan tidak mengganggu kebiasaan lama. Anggota baru butuh kesempatan nyata untuk menyampaikan gagasan, mencoba cara kerja berbeda, dan mengambil keputusan sendiri. Rasa memiliki tumbuh ketika seseorang merasa kontribusinya terlihat dan memengaruhi perjalanan organisasi (Hsieh & Chiu, 2024).

2. Relevansi Program: Kegiatan untuk Siapa?

Program yang ramai belum tentu bermakna. Gugusdepan bisa menyelenggarakan puluhan kegiatan dalam setahun dan tetap gagal menjawab kebutuhan anggotanya. John Dewey menilai kualitas pendidikan bukan dari volume kegiatan, melainkan dari mutu pengalaman dan kemampuannya membuka pertumbuhan lebih lanjut (Dewey, 1938).

Setiap program perlu diuji dengan pertanyaan langsung: apakah kegiatan ini mengembangkan kecakapan, memperluas wawasan, menjawab masalah nyata di masyarakat, dan membantu anggota mempersiapkan masa depan mereka? Tradisi tetap penting sebagai penjaga identitas, tapi tidak boleh membekukan kreativitas. Program yang relevan bukan yang ikut-ikutan tren, melainkan yang menghubungkan nilai kepramukaan dengan persoalan yang sungguh-sungguh dirasakan anggota.

3. Kepemimpinan: Membentuk Pemimpin atau Memelihara Hierarki?

Banyak organisasi berbicara soal kepemimpinan, tapi keputusan tetap terpusat di tangan pembina, senior, atau segelintir pengurus. Anggota hanya menjalankan instruksi, tidak pernah mengalami proses memilih dan memutuskan sendiri.

Paulo Freire menyebut pola ini sebagai pendidikan "gaya bank": peserta didik diperlakukan sebagai wadah pasif untuk ditabungi pengetahuan (Freire, 2005). Kepemimpinan di gugusdepan tidak bisa dibangun dengan cara itu. Ia tumbuh melalui dialog, pembagian tanggung jawab yang nyata, keberanian mengelola konflik, dan kesediaan mengakui kesalahan. Pembina dan senior tidak kehilangan wibawa ketika memberi ruang. Kekuasaan yang dilepaskan sebagian justru lebih produktif daripada yang digenggam erat. Yang lahir bukan pengikut abadi, tapi orang-orang yang suatu hari akan memimpin sendiri.

4. Tata Kelola: Administrasi atau Etika Tanggung Jawab?

Arsip, data anggota, laporan keuangan, program kerja, dan prosedur serah terima kerap dianggap pekerjaan administratif yang membosankan. Padahal, tata kelola adalah praktik etis. Dokumen yang tertib menjaga ingatan organisasi, mencegah manipulasi, dan memastikan pengetahuan tidak menguap begitu saja ketika kepengurusan berganti.

Habermas menegaskan bahwa keputusan memperoleh legitimasi melalui komunikasi terbuka yang dapat diperiksa oleh semua pihak (Habermas, 1984). Rapat bukan forum pengesahan kehendak segelintir orang. Transparansi anggaran, kejelasan pembagian peran, dan akses terhadap informasi adalah bagian dari budaya organisasi yang adil. Ini bukan soal prosedur; ini soal siapa yang sungguh-sungguh dilibatkan.

5. Transformasi Digital: Alat yang Membebaskan atau Jebakan Efisiensi?

Teknologi digital memang bisa membantu pendataan anggota, pengarsipan, komunikasi, dan transfer pengetahuan. Tapi digitalisasi bukan sekadar memindahkan dokumen ke penyimpanan daring atau membuat konten untuk media sosial.

Heidegger memperingatkan bahwa teknologi dapat mendorong manusia memandang segala sesuatu, termasuk sesama manusia, hanya sebagai sumber daya yang perlu dihitung dan dikendalikan (Heidegger, 1977). Dalam situasi itu, anggota tinggal angka partisipasi dan kegiatan tinggal bahan unggahan. Jameson et al. (2022) menambahkan bahwa kepemimpinan digital membutuhkan visi, kesiapan budaya, dan keselarasan antara teknologi dengan tujuan organisasi. Teknologi harus mengikuti arah pendidikan, bukan sebaliknya.

6. Kolaborasi: Bekerja Bersama atau Sekadar Berbagi Panggung?

Kolaborasi antargugusdepan sering berhenti di permukaan: kegiatan gabungan, penandatanganan kesepakatan, foto bersama. Martin Buber membedakan dua jenis relasi. Relasi "Aku-Engkau" mengakui pihak lain sebagai subjek yang utuh. Relasi "Aku-Itu" menjadikan pihak lain sebagai alat kepentingan (Buber, 1970). Banyak kolaborasi gugusdepan masih berjalan dalam logika kedua.

Kolaborasi yang bermakna menuntut tujuan bersama yang benar-benar disepakati, pembagian peran yang adil, pertukaran pengetahuan yang tulus, dan keberanian berbagi pengakuan. Gugusdepan yang lebih kuat tidak seharusnya mendominasi. Dampak nyata muncul ketika ada kepercayaan, komunikasi yang sehat, dan tanggung jawab yang jelas dari semua pihak (Tian & Wang, 2025).

Keenam persoalan itu menunjukkan bahwa tantangan terbesar gugusdepan bukan kekurangan anggota atau kegiatan. Ketika organisasi kehilangan makna pendidikannya, ramai pun tidak ada artinya. Pembenahan berarti mengembalikan gugusdepan sebagai ruang bagi manusia muda untuk memulai sesuatu yang baru, berdialog secara jujur, bertanggung jawab atas keputusannya, dan bekerja bersama tanpa saling memperalat.

Gugusdepan akan tetap relevan bukan karena mempertahankan seluruh bentuk lamanya, melainkan karena berani memperbarui cara menjalankan nilai-nilai yang tidak berubah.

 Ditulis oleh : Irfan Gimnastiar (irfangimnastiar125@gmail.com)


Daftar Pustaka

Arendt, H. (1998). The human condition (2nd ed.). University of Chicago Press.

Buber, M. (1970). I and thou (W. Kaufmann, Trans.). Charles Scribner’s Sons. (Original work published 1923)

Dewey, J. (1938). Experience and education. Macmillan.

Freire, P. (2005). Pedagogy of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.; 30th anniversary ed.). Continuum. (Original work published 1970)

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action: Vol. 1. Reason and the rationalization of society (T. McCarthy, Trans.). Beacon Press.

Heidegger, M. (1977). The question concerning technology and other essays (W. Lovitt, Trans.). Harper & Row.

Hsieh, M.-J., & Chiu, S.-K. (2024). Innovative thinking in volunteer organizations: Addressing the impact of psychological ownership on volunteer organizational commitment. Systems, 12(7), Article 228. https://doi.org/10.3390/systems12070228

Jameson, J., Rumyantseva, N., Cai, M., Markowski, M., Essex, R., & McNay, I. (2022). A systematic review and framework for digital leadership research maturity in higher education. Computers and Education Open, 3, Article 100115. https://doi.org/10.1016/j.caeo.2022.100115

Tian, N., & Wang, W. (2025). Innovative pathways for collaborative governance in technology-driven smart communities. Sustainability, 17(1), Article 98. https://doi.org/10.3390/su17010098


Lebih baru Lebih lama