GELAP GULITA PENDIDIKAN INDONESIA: Masih Pantaskah Menjadi Guru?


Oleh: Pajar Nugraha

​Potret pendidikan di Indonesia hari ini bukan lagi soal pengabdian yang mulia, melainkan sebuah ironi yang menyayat hati. Di tengah gegap gempita janji politik, nasib guru honorer tetap terombang-ambing dalam ketidakpastian. Dengan upah berkisar antara Rp200.000 hingga Rp1.000.000 per bulan, pertanyaannya menjadi sangat krusial: Masih relevankah mengejar mimpi menjadi guru di zaman sekarang?

​Investasi Akademik yang Berujung Ironi

​Mahasiswa keguruan hari ini menghabiskan waktu, biaya, dan energi di bangku kuliah dengan harapan bisa membangun bangsa. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan hanyalah elemen pendukung, bukan prioritas utama dalam membangun kesejahteraan rakyat. Keuntungan finansial yang tidak seberapa bagi para pendidik honorer adalah bukti nyata bahwa gelar sarjana seringkali hanya dibalas dengan apresiasi "terima kasih" tanpa kesejahteraan yang layak.

​Tragedi NTT: Indikator Hancurnya Pendidikan

​Salah satu pukulan paling telak bagi wajah pendidikan kita adalah tragedi meninggalnya seorang bocah SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memilih mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pena. Ini bukan sekadar berita duka, melainkan indikator valid atas kehancuran sistem pendidikan. Bagaimana kita bisa mengharapkan masa depan yang cerah jika alat dasar untuk belajar saja menjadi barang mewah yang merenggut nyawa?

​Pergeseran Anggaran: Perut vs Otak

​Ketidakpedulian negara semakin terlihat jelas dalam kebijakan fiskal terbaru. Pemangkasan anggaran pendidikan sebesar Rp223,55 Triliun yang dialihkan untuk program Makan Bergizi Gratis menunjukkan pergeseran prioritas yang mengkhawatirkan.

​Negara seolah lebih mementingkan "isi perut" sesaat daripada "isi otak" jangka panjang. Meskipun ada pengangkatan ribuan pegawai menjadi ASN, ketimpangan sosial tetap menganga lebar. Kondisi ini memicu kecurigaan bahwa negara sedang menyiapkan sistem yang mencetak kepatuhan, bukan kecerdasan.

​Melawan Pembodohan Terstruktur

​Mengingat kutipan legendaris Tan Malaka:

​"Mereka ingin kita patuh bukan cerdas, karena yang cerdas sulit ditipu."

​Kondisi saat ini seolah mengamini pernyataan tersebut. Ketika anggaran pendidikan dipangkas, yang dikorbankan adalah kualitas generasi mendatang. Tanpa guru yang sejahtera, tidak akan ada pemimpin yang hebat. Mereka yang sekarang duduk di kursi empuk pemerintahan harus ingat bahwa keberadaan mereka adalah buah dari didikan seorang guru yang mungkin kini hidupnya sedang sengsara.

​Tuntutan Kami:

​Kembalikan anggaran pendidikan yang dipangkas untuk kepentingan politik praktis.

​Sejahterakan guru secara nyata, bukan sekadar janji administratif.

​Hentikan sistem yang hanya menginginkan kepatuhan dan mulailah membangun kecerdasan bangsa.

​Pendidikan Indonesia sedang berada di titik Gelap Gulita. Jika tidak ada perubahan nyata, maka hanya ada satu kata yang tersisa: LAWAN!

​#GELAPGULITAPENDIDIKANINDONESIA

Lebih baru Lebih lama