Jakarta. Indonesia tidak pernah kekurangan anak berbakat.
Yang sering hilang adalah sistem yang mampu menjaga mereka tetap berdiri
setelah lampu stadion padam. Dari kegelisahan itulah Bima Sinung Widagdo
menulis buku "Mengapa Prestasi Bangsa Dimulai dari Ekosistem".
Bima bukan pengamat biasa. Ia mantan atlet Pencak Silat SEA
Games, mantan manajer PSIM Yogyakarta dan Sulut United, pembina olahraga akar
rumput, serta pendiri Sportpreneur Indonesia. Ia pernah merasakan kerasnya
matras, duduk di ruang rapat klub profesional, dan menyaksikan sendiri anak
anak berbakat menghilang karena tidak ada langkah selanjutnya.
Ketika Lampu Stadion Padam
Bima menyebut satu fakta sederhana. Cahaya lampu stadion
tidak akan abadi jika tidak ada sistem yang memasok listriknya. Kalimat itu
lahir dari pengalamannya sendiri.
Kantor Staf Presiden dalam Road to Talent Fest 2026
menegaskan hal serupa. Masalah utama olahraga Indonesia bukan kurang bakat,
melainkan terputusnya trajektori. Data terfragmentasi, koordinasi lemah,
kesempatan bertanding tidak merata, sport science minim, dan karier atlet
setelah pensiun tidak pasti. Pakar KSP, Lindsey Afsari Puteri, mengatakan
rantai talenta tidak boleh putus di tengah jalan.
Buku ini menempatkan persoalan itu ke atas meja. Prestasi
bangsa tidak lahir dari keajaiban sesaat, melainkan dari ekosistem yang bekerja
benar setiap hari.
Tiga Identitas, Satu Benang Merah
Sebagai mantan atlet, Bima tahu harga yang dibayar seorang
atlet ketika mempertaruhkan tubuh dan masa mudanya demi Merah Putih.
Sebagai manajer klub, ia menyaksikan dari dalam bagaimana
kualitas keputusan menentukan hidup dan matinya sebuah tim. Ia pernah mengaku
keterlibatannya di sepak bola berawal dari melihat anak anak akar rumput sangat
antusias, tetapi bertahun tahun tidak benar benar menjadi lebih baik. Itulah
yang mendorongnya dari komite turnamen sekolah hingga ke klub profesional.
Sebagai pembangun ekosistem, ia kini memimpin Sportpreneur
Indonesia untuk menjembatani potensi atlet dengan industri yang sehat. Pada
September 2026, ia tampil bersama LRT Jakarta dan SparX Indonesia dalam diskusi
sport tourism, memposisikan olahraga sebagai titik temu mobilitas, destinasi,
dan komunitas.
Ketiga identitas itu bermuara pada satu tesis. Prestasi
atlet bukan peristiwa tunggal, melainkan hasil keluaran sebuah sistem. Sistem
yang hanya menuntut latihan keras tanpa menyediakan jalan keluar akan terus
kehilangan anak terbaiknya.
Ekosistem Lebih Penting daripada Genius
Dalam Workshop Sportpreneur, Bima menyatakan seni bela diri
dan olahraga tempur tidak kekurangan orang bernilai. Yang kurang adalah orang
yang berani berpikir strategis tentang sistem. Terlalu banyak pelatih hidup pas
pasan, atlet berprestasi bingung setelah pensiun, dan tempat latihan stagnan
secara ekonomi. Masalahnya bukan semangat, melainkan model pengelolaan.
Ia berpendapat atlet harus dipandang sebagai aset jangka
panjang, bukan mesin medali. Tempat latihan harus menjadi pusat nilai, bukan
sekadar ruangan berkeringat. Ini ajakan mengubah cara bangsa memandang
olahraga, bukan sebagai pengeluaran, melainkan sebagai investasi.
Data eksternal membenarkan penilaian itu. Pada 2025,
akademisi Prasetya Nugraha menyebut olahraga di Lampung belum menjadi karier
berkelanjutan karena ketiadaan platform industri. Di tahun yang sama, Melly
Goeslaw di parlemen menyuarakan kesulitan atlet pensiun yang sejak kecil fokus
berlatih sehingga tidak tamat SD atau SMP, lalu terganjal syarat administratif
saat mencari kerja.
Jika sistem tidak mampu menopang atlet di luar masa
puncaknya, prestasi yang dibanggakan itu sejak awal memang rapuh. Dan bangsa
yang membiarkan sistemnya rapuh sedang mempertaruhkan masa depannya sendiri.
Buku tentang Setelahnya
Buku ini tidak membahas cara memenangkan pertandingan
berikutnya. Buku ini menanyakan setelah menang, apa yang kita tinggalkan untuk
Indonesia.
Bagi Bima, jawabannya bukan pada satu medali emas, melainkan
pada infrastruktur tak terlihat. Tata kelola klub yang transparan, model bisnis
berkelanjutan, jalur jelas dari akar rumput hingga profesional, serta jaminan
kelembagaan agar atlet pensiun tidak terlunta lunta. Pekerjaan itu tidak
menghasilkan tepuk tangan. Tetapi justru itulah yang menentukan apakah
Indonesia bisa berdiri tegak di panggung dunia, bukan hanya sesaat, melainkan
sepanjang masa.
Cahaya lampu stadion tidak akan abadi jika tidak ada yang
merawat kabelnya.
Buku ini tentang kabel kabel itu. Tentang kerja yang tak
terlihat. Dan tentang Indonesia yang tidak boleh lagi kehilangan anak anak
terbaiknya begitu saja.
Refrensi
Antara News. (2026, 13 Agustus). KSP nilai pembinaan
atlet masih terhambat ego sektoral. https://www.antaranews.com/berita/5692948/ksp-nilai-pembinaan-atlet-masih-terhambat-ego-sektoral
Antara News. (2026, 13 Agustus). Bakat saja tak cukup.
https://www.antaranews.com/berita/5693364/bakat-saja-tak-cukup
BeritaSatu. (2025, 8 Juni). Melly Goeslaw minta
pemerintah pikirkan atlet Indonesia seusai pensiun. https://www.beritasatu.com/lifestyle/2894371/melly-goeslaw-minta-pemerintah-pikirkan-atlet-indonesia-seusai-pensiun
Gerindra. (2025, 8 Juni). Melly Goeslaw soroti nasib
mantan atlet: Jangan dibiarkan terlunta-lunta. https://gerindra.id/2025/06/08/melly-goeslaw-soroti-nasib-mantan-atlet-jangan-dibiarkan-terlunta-lunta/
JDIH DPR RI. (2025, 23 Mei). Berjasa bagi negara,
pemerintah harus beri perhatian terhadap pensiunan atlet. https://jdih.dpr.go.id/berita/detail/id/56435
Kompas.id. (2026, 14 Agustus). Road to Talent Fest 2026,
upaya sinergi pembinaan atlet. https://www.kompas.id/artikel/road-to-talent-fest-2026-upaya-sinergi-pembinaan-atlet
PSIM Jogja. (2021, 4 Oktober). Bima Sinung, CEO baru
Laskar Mataram. https://psimjogja.id/bima-sinung-ceo-baru-laskar-mataram/
Radar Jogja. (2023, 14 Agustus). Bima Sinung pamit, PSIM
Jogja tak punya CEO dan manajer. https://radarjogja.jawapos.com/mainbola/2308140070/bima-sinung-pamit-psim-jogja-tak-punya-ceo-dan-manajer
Realita Rakyat. (2026, Agustus). Pembinaan atlet tak
berjalan sinkron, KSP dorong lima pergeseran strategis olahraga. https://realitarakyat.com/2026/08/pembinaan-atlet-tak-berjalan-sinkron-ksp-dorong-lima-pergeseran-strategis-olahraga/
RRI.co.id. (2025, 17 Oktober). Bisnis olahraga Lampung
harus jadi karir berkelanjutan. https://rri.co.id/bandar-lampung/olimpik/1907640/
SWA.co.id. (2026, 4 September). Jakarta bidik sport
tourism berbasis TOD sebagai mesin ekonomi baru. https://swa.co.id/read/476929/
Tribun Jogja. (2023, 18 Januari). CEO PSIM Yogyakarta,
Bima Sinung Widagdo beberkan alasan masuk bursa calon Exco PSSI. https://jogja.tribunnews.com/2023/01/18/
TVOneNews. (2026, 21 April). Peran kepemimpinan dan arah
strategis Sportpreneur Indonesia. https://www.tvonenews.com/berita/opini/433802/
Y2F Media. (2026, 10 Januari). Naik level bareng Bima
Sinung Widagdo: Inovasi Sportpreneur dan cara baru melihat bisnis beladiri.
https://y2f.media/naik-level-bareng-bima-sinung-widagdo-inovasi-sportpreneur-dan-cara-baru-melihat-bisnis-beladiri/
