Citizen Journalist -- Berjarak sekitar dua jam dari pusat keramaian, di tepian sungai yang selama ini hanya disebrangi jembatan bambu rapuh, ratusan warga dua kabupaten berkumpul menyaksikan peresmian Jembatan Titian Persatuan Cilojami oleh Anies Baswedan. Di tengah dentuman calung dan sorak anak-anak sekolah, jembatan baja sempit selebar dua meter itu tampil sebagai penanda baru hubungan Cilonok (Desa Cilangari, Bandung Barat) dan Jami Lega (Desa Sukasirna, Cianjur) yang selama ini seperti hidup di “ujung peta”.
Sejak pagi, MC memanaskan suasana dengan jargon “Aksi bersama, sambung menyambung menjadi satu”, menggambarkan semangat gerakan swadaya yang menjadi roh proyek ini. Pengibaran bendera merah putih oleh Paskibraka SMPN 4 Gunung Halu menegaskan bahwa jembatan ini bukan sekadar proyek lokal, tapi simbol persatuan dan akses baru menuju sekolah, puskesmas, dan pasar bagi dua desa yang terpisah administratif dan geografis. Dalam laporan panitia dan sambutan para kepala desa, mengemuka keluhan klasik: minimnya anggaran desa membuat infrastruktur dasar seperti jembatan dan jalan layak seolah mustahil tanpa uluran tangan pihak luar.
Yayasan Islamadina datang mengisi celah itu, membawa donasi dari puluhan hingga ratusan juta rupiah yang dikumpulkan jamaah dan mitra seperti BSI Maslahat, lalu dikawinkan dengan tenaga warga dan tim Aksi Bersama serta Sasaka sebagai penggerak lapangan. Di atas panggung sederhana, perwakilan yayasan mengingatkan bahwa sumbangan kecil dan besar sama-sama melebur menjadi amal jariah yang mengalir tiap kali roda gerobak, langkah petani, atau tas sekolah melewati rangka baja di atas sungai.
Dalam pidatonya, Anies memilih menggarisbawahi dimensi politik pembangunan tanpa menyebut kontestasi secara eksplisit. Ia mengkritik pola pembangunan yang terlalu “program-sentris” dari pusat dan mendorong pendekatan gerakan yang melibatkan warga sejak perencanaan hingga kerja bakti, agar rasa memiliki tumbuh dan jembatan dirawat seperti motor sendiri di halaman rumah. Di hadapan warga yang terang-terangan menyuarakan harapan agar ia kembali maju di Pilpres 2029, Anies meresponsnya sebagai bentuk kepercayaan, lalu kembali mengarahkan sorotan ke isu struktural: desa-desa yang terlupakan, dana yang seragam untuk masalah yang beragam, dan kebutuhan akses dasar yang kerap kalah oleh proyek-proyek glamor.
Momen pembacaan prasasti “Titian Persatuan Cilojami” menjadi puncak dramatik, ketika jembatan digambarkan sebagai harapan yang sempat melapuk bersama jembatan bambu lama, lalu dibangkitkan kembali oleh keringat perempuan pengangkut batu dan bapak-bapak tukang las yang bekerja di tengah hujan dan terik. Penyeberangan perdana anak-anak dan petani, diiringi lagu-lagu nasional, mempertebal narasi bahwa jembatan ini bukan hanya menghubungkan dua tepi sungai, tetapi juga ketertinggalan dengan kesempatan ekonomi baru dan rasa percaya diri warga pinggiran.